NEWS

Plus Minus Penggunaan Teknologi Informasi Selama Pandemi Corona, Susanto: Banyak Pelanggaran

.Sejak dinyatakan sebagai pandemi, virus corona tidak hanya menyerang kesehatan, tetapi seluruh bidang kehidupan manusia juga berubah.


Hal itu terjadi pula pada teknologi informasi dan internet yang sekarang ini sangat dibutuhkan saat masa work from home (WFH).

Menurut Pakar Keamanan Data Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang (FTIK USM), Susanto, banyak sisi positif teknologi informasi dan internet yang dapat digunakan seperti bekerja di rumah, sekolah di rumah, dan berjualan di rumah.

Selain sisi positif, dia juga mengingatkan banyak pula sisi negatif menjurus ke kriminal yang dihasilkan dari teknologi informasi dan internet pada masa WFH ini.

"Sangat banyak pelanggaran yang dilakukan di masa WFH ini menggunakan teknologi informasi dan internet.

Beberapa di antaranya adalah pembobolan data akun beberapa E-Commerce besar seperti Tokopedia dan Bukalapak," ungkap pria yang juga menjabat Dekan FTIK USM itu kepada Tribun Jateng, Rabu (6/5/2020).

Dia mengatakan, pelanggaran ini dikarenakan pada masa WFH banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan serta banyak pula yang beraktivitas di rumah sehingga membuat transaksi E-Commerce akhir-akhir ini berkembang pesat dan sumber daya uang berputar hebat.

"Aktivitas itu ini menarik para hacker untuk melakukan pelanggaran dengan melakukan pencurian data dan uang dari E-Commerce," ucapnya.

Dia menuturkan, selain beberapa E-Commerce yang dibobol, ada pula sisi keamanan data dari aplikasi teleconference seperti Zoom yang diserang untuk keperluan tertentu.

Dia menduga, data-data tersebut kemungkinan data-data dapat dijual ke pihak tertentu.

"Tetapi jangan takut, Zoom dan beberapa E-Commerce sudah gerak cepat. Per April 2020 kemarin sudah menambal celah keamanan yang bocor," tutur Susanto.

Tidak hanya itu, bahkan kalangan non Hacker juga memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan uang dengan cara tidak benar.

Dia mencatat, banyak sekali sosial media seperti FB (Facebook), WA (Whatsapp), dan IG (Instagram) yang digunakan untuk melakukan penipuan.

“Kita tahu sekarang ini banyak toko dadakan menggunakan sosial media yang menjual masker kesehatan, hand sanitizer, dan APD (Alat Pelindung Diri) dengan harga murah jauh di bawah standar. Selain itu juga mereka menjanjikan stok yang melimpah dengan berbagai promonya, tetapi akhirnya berujung pada penipuan," ungkapnya.

Sebagai informasi, masker kesehatan, hand sanitizer, dan APD sampai sekarang ini masih merupakan barang langka dan mahal.

"Jadi kita harus menggunakan logika dan naluri pula dalam berbelanja," ucapnya.

Akhir-akhir ini, menurutnya penggunaan sosial media meningkat, sehingga banyak sekali berita, status, atau story yang dihasilkan.

"Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai sebagai masyarakat yang budiman menyebarkan berita hoaks, caci, dan maki di sosial media," ucapnya.

Menurutnya, tingkat kebenaran dan etika dalam menyampaikan berita, status, atau story perlu diperhatikan agar tidak memperkeruh suasana.

Susanto juga menyampaikan beberapa tips dan trik untuk keamanan data pribadi dan mencegah terjadinya penipuan, yakni:
1. Walau dengan keadaan beberapa akun di E-Commerce atau media lain sudah bocor, segera aktifkan Two Factor Authentication (TFA/ Otentifikasi Dua Langkah) dengan menyediakan nomor Smartphone sebagai tambahan keamanan.

Selama ini hanya login sistem biasanya hanya menggunakan user password, maka dengan TFA akan maka kita akan di SMS atau pesan verifikasi ke Smartphone kita apabila ada akun lain masuk dari perangkat lain menggunakan akun kita.

Ini sudah disediakan beberapa sosial media dan E-Commerce seperti Facebook, Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan sebagainya. Anda semua dapat pula mencoba menggunakan Google Authenticator untuk keamanan data pribadi.

2. Segera ubah password karena kebiasaaan kita selama ini adalah satu password untuk semua akun. Update password minimal kita memiliki 2 (dua) sampai 3 (tiga) jenis password berbeda.

Karena dengan hal ini akan mencegah pencurian password oleh para Hacker dan supaya keamanan data dan transaksi kita terjamin.

3. Sementara ini jangan simpan informasi transaksi keuangan baik di aplikasi maupun di Smartphone, lebih baik dicatat di kertas atau diingat saja.

4. Aktifkan Automatic Update untuk situs-situs atau aplikasi yang berhubungan dengan keuangan seperti E-Bangking, E-Commerce, E-Transport, dan sebagainya.

5. Apabila ingin jual beli cek testimoni dan komentar terlebih dahulu. Apabila kolom komentar dimatikan, maka jangan beli barang di akun tersebut karena potensi penipuan cukup besar dengan hal janggal ini.

Harap diperhatikan bahwa follower banyak bukan jaminan akun tersebut tidak menipu. Cek pula history akun bergabung karena akan sangat aneh tiba2 dalam waktu yang cepat sebuah akun memiliki follower yang banyak bahkan sampai jutaan follower kecuali akun milik artis mungkin saja.

6. Cek rekening penipuan online lewat https://www.kredibel.co.id/ dengan memasukkan rekening penjual pada website tersebut untuk memeriksa apakah rekening tersebut menipu atau tidak karena dari pemantauan di website ini bahwa hampir 75% permintaan transfer jual beli menggunakan rekening BTPN adalah akun palsu atau akun penipuan (mohon maaf tidak untuk menjelekkan BTPN).

Anda bisa melaporkan rekening-rekening ini ke website ini sehingga membantu banyak orang tidak tertipu.

7. Yang penting jangan mudah pecaya dan mari kita gunakan logika dalam berbelanja untuk mencegah penipuan.

Lebih baik belanja lewat E-Commerce saja karena itu lebih terjamin dari resiko penipuan. Apabila terjadi penipuan, laporkan agar E-Commerce dapat memblokir akun penipuan tersebut.

“Semoga pandemi ini segera berlalu. Semua masyarakat kami minta harus tetap jaga kesehatan dan social distancing. Dan semoga kita semua semakin nyaman menggunakan teknologi informasi dan internet di tengah masa WFH ini. Kita gunakan teknologi informasi dan internet untuk kebaikan bersama," tandasnya. (kan)


Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Plus Minus Penggunaan Teknologi Informasi Selama Pandemi Corona, Susanto: Banyak Pelanggaran, https://jateng.tribunnews.com/2020/05/06/plus-minus-penggunaan-teknologi-informasi-selama-pandemi-corona-susanto-banyak-pelanggaran?page=all.
Penulis: Muhammad Sholekan
Editor: muh radlis

Sumber : TribunJateng


Rudin Ndeso | 08 May 2020